Terlalu dini menyebut ini berakhir.
Tahun 2014; tahunnya kita..
Waktu
memang terlambat mempertemukan kita..
Tapi aku bersyukur, karena ia masih
berpihak pada kita..
Malam itu, hujan seakan turut merasakan
kesedihan kita. Mereka turun satu demi satu. Tanpa pertanda, tanpa isyarat. Tak
peduli dengan keramaian jalan dan derasnya hujan. Aku tetap pada keputusanku.
Tak ku hentikan langkahku sedikitpun.
Mataku menerawang mencoba mengingat
kejadian tadi. Potongan kisah itu
dengan egoisnya menari-nari dalam ingatanku. Ah,
sudahlah. Tak mau ku ambil pusing lagi. Tiba-tiba ponselku berdering
menyuarakan lagu Still Into You dari Paramore, sebuah pertanda ada panggilan
masuk. Di dalam sana tertera nomor yang tak asing lagi bagiku. Tak salah lagi.
Segera ku angkat telpon itu.
B: “Kamu di mana?”
D: “Aku di seberang jalan, menunggu
hujan reda”
B: “Kamu di sana sama siapa? Tunggu aku
di sana!”
D: Sudah, gak usah ke sini. Aku ingin
pulang sendiri”
B: “Pokoknya tunggu aku di sana. Oke?!”
Klik.
Sensasi hangat tiba-tiba menyelubungi
atmosfir di sekujur tubuhku, memercikkan sedikit firasat baik.
Dari kejauhan ku lihat sosokmu
samar-samar masih memegangi handphone, membelah kerumunan mobil yang berlalu
lalang di tengah hujan yang tak kunjung reda. Aku dapat
merasakan wajahku memancarkan rona merah; aku bahagia.
Kau datang padaku, semakin dekat saja.
Hingga dapat ku rasakan derap langkahmu ataukah itu degup jantungku yang makin
menjadi? Entahlah, aku tak tahu pasti.
Ya
Tuhan..
Sekarang
kau hanya tinggal beberapa senti di depanku. Kau lalu
memegang kedua tanganku, dan menangkupkannya di depan dadamu
seraya berkata..
B:
“Aku minta maaf sudah membuatmu kecewa. Bukan maksudku mengucapkan
kalimat-kalimat bodoh tadi di depan mereka. Aku menyayangimu, benar-benar
sayang padamu. Tatap mataku, apakah kamu menemukan kebohongan di sana? Ayo
tatap! Jangan tatap lantai itu, tak ada jawaban di sana”
Aku
dapat merasakan keseriusan di sana, di kedua bola matanmu yang
tajam.
Hening
sejenak..
B:
“Kamu sayang kan sama aku? Kalau benar begitu, kamu harus ikut aku pulang! Akan
aku antar kamu ke rumahmu”
D:
*speechless*
B:
“Tunggu di sini yah, jangan kemana-mana. Aku mau ambil motor dulu, lalu kita
pulang”
Aku
tak mengiyakan dan tak juga menolak. Aku hanya bergeming.
Ku
lihat kau berlalu. Tak sedikitpun ku palingkan pandanganku
darimu, hingga kau benar-benar menghilang..
"All of my doubt suddenly goes away somehow, one step closer"
Seperti itulah potongan
moment yang kita lewati bersama. Kita mengalami malam-malam yang
sangat berat, aku
tahu itu. Tapi aku bersyukur, kali ini waktu berlaku sangat adil padaku..
Makasih kuucapkan teruntuk kekasih
hatiku..
Makasih karna kamu memperjuangkan rasa ini, rasa yang
ku kira akan mati bersama semua kenangan yang tersapu oleh hujan..
Makasih karna kamu memberiku
satu hal yang luar biasa; kebahagiaan..

