Senin, 09 September 2013

Di Balik Hujan



Hari ini merupakan salah satu hari besar sekolah kami. Setelah 3 tahun lamanya kami menempuh pendidikan di SMA Negeri 3 Makassar, akhirnya kami bisa bernapas lega mengetahui bahwa angkatan kami lulus 100%. Tidak ada kata yang dapat menggambarkan perasaan kami dengan pasti, kami hanya bisa memanjatkan syukur kepada Tuhan yang telah menganugerahkan nikmatnya kepada kami yang begitu luar biasa.
Seperti biasa, setiap tahunnya sekolah kami mengadakan upacara besar untuk melepas kepergian kami yang mendapat predikat sebagai alumni. Upacara ini bukanlah upacara biasa yang rutin dilakukan pada hari Senin, melainkan upacara di mana siswa-siswi bebas mengekspresikan bakat yang mereka miliki di depan seluruh warga SMAN 3 Makassar untuk yang terakhir kalinya.
***
Siapa yang menduga hari ini hujan. Aku hanya bisa termenung melihat persiapan upacara sudah tertata rapi di lapangan. Di sana tertera papan identitas yang menunjukkan barisan tiap kelas, dilengkapi dengan balon dan banner yang siap diterbangkan ke langit sebagai rasa syukur kami atas berkah kelulusan yang Dia berikan. Tak ketinggalan pula sebuah panggung yang cukup besar dengan berbagai kelengkapan soundsistem beserta alat musik yang siap untuk meramaikan acara yang sudah direncanakan sedemikian rupa.
Aku dapat melihat ekspresi kecewa dari setiap siswa-siswi yang lalu lalang di depanku. Mereka pasti sama kecewanya denganku. Kami telah mempersiapkan segala hal demi kelancaran acara ini, namun apa boleh buat. Aku yakin, hujan kali ini akan membawa nikmat. Satu hal yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu. Menunggu hingga matahari kembali muncul dibalik awan dan memancarkan cahaya terangnya.
Aku sangat benci melihat semua teman-teman seperjuanganku seakan putus harapan. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan sekolah, berharap bisa mendapatkan buku-buku bagus untuk dibaca.
“Hai Ra, kamu mau ke mana?”, sapa suara yang tak asing lagi bagiku dari belakang.
“Hai San, aku mau ke perpus nih. Mau ngadem dulu, daripada di lapangan hanya bisa liat aura-aura suntuk”, jawabku dengan wajah kesal.
“Oh, kalo gitu aku ikut kamu ya. Males juga liat hujannya. Kenapa mesti turun hari ini sih? Kenapa gak kemaren coba?”.
“Hustt, pasti ada hikmahnya kok. Kita hanya perlu sabar”, kataku sambil mencubit pipi cabi Sandra.
Aku dan Sandra adalah teman sebangku sejak kelas 1 SMA. Tak hanya itu, kami bahkan dijuluki si kembar yang tak terpisahkan. Ini karena kami selalu menghabiskan waktu berdua. Untung aja kami berdua cewek, kalo yang satu cowok pasti kami udah jodoh saking lengketnya.
Hanya butuh waktu kurang dari 5 menit untuk sampai di perpustakaan. Perpustakaan kami terletak di lantai dua, tepat di depan mushallah, di samping kanan laboratorium kimia. Aku terkejut melihat Aldo, Reno, dan Kevin duduk di depan pintu perpustakaan dengan wajah memelas.
“Kamu kenapa, Do?”, tanyaku.
“Perpus tutup nih, gak seru”, jawabnya dengan pandangan lurus ke depan koridor.
“Yah, padahal kami baru mau baca di perpus”, keluh Sandra yang sedari tadi hanya diam.
“Ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Ini semua gara-gara hujan sialan ini. Harusnya hari ini kita tuh seneng-seneng satu angkatan merayakan kesuksesan kita”, gerutu Kevin.
“Sudahlah, udah terlanjur. Kita hanya bisa nunggu hujannya berhenti”, jawabku dengan tatapan kosong.
“Hey, daripada kalian capek berdiri di situ, mending sini aja duduk. Daripada kalian ke bawah lagi, kan capek”, kata Aldo sambil tersenyum.
Tanpa basi basi aku segera menarik tangan Sandra dan duduk tepat di samping Aldo.
Entah kesalahan apa yang angkatan kami telah perbuat. Hujan bukannya redah, malah makin menjadi. Kini ditambah kilatan yang memotret dengan riangnya. Sesekali tampak seberkas cahaya merah yang mengetuk-ngetuk langit.
“Aduh, gimana nih, Do? Kayaknya angkatan kita kali ini harus rela menerima kenyataan. Masa sih tahun ini gak akan ada upacara besar?”, tanya Sandra ke Aldo yang sedari tadi asyik mengutak-atik Iphonenya.
“Entahlah, San. Perkataanmu ada benarnya juga”, jawab Aldo mulai patah semangat.
Dalam hati aku juga mulai khawatir akan perkataan Sandra, kita harus bisa menerima  kemungkinan terburuknya. Kali ini mataku tertuju pada Reno yang sedari tadi hanya duduk termangu sambil sesekali meneguk minuman di botol yang dia pegang. Dia tampak begitu dingin, entah masalah apa yang sedang dihadapinya.
Aku tak pernah merasa bosan mengamati wajahnya. Meskipun terkesan dingin, aku tetap menyukai lekuk wajahnya yang begitu menawan. Matanya yang tajam memancarkan aura kemisteriusan yang begitu menggoda. Ku runut wajahnya satu demi satu, sangat mempesona.
Tanpa sadar Reno memalingkan pandangannya padaku dengan tatapan heran. Aku langsung salah tingkah dan segera memalingkan pandanganku darinya. Sedetik kemudian aku baru tersadar kalo dia tak lagi berkonsentrasi pada minumannya, malahan dia mengemati aku yang sedang melongo.
“Pantas saja, minumannya udah habis”, gumamku tanpa sadar.
“Eh? Kamu bilang apa, Ra?” tanya Kevin heran.
“Engg.. gak kok. Hujannya udah mulai reda, hehe”, sangkal ku sekenanya.
“Kamu menghayal yah, Ra? Hujannya dari tadi begitu-begitu aja, malah kamu bilang reda.”, timpal Sandra sambil menyenggol pundakku.
“Sudahlah, sebelum kita pada bengong semua, gimana kalo..”
“Kalo apa, Do?”, tanya Sandra penasaran.
Tanpa ku duga Aldo mengambil botol minuman Reno yang sudah kosong tadi, kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi sembari meneruskan kalimatnya.
“Gimana kalo kita main Truth Or Dare aja?”, tanyanya dengan penuh semangat.
“Boleh juga tuh, dari pada gak ada kerjaan”, jawab Kevin.
“Iya, kayaknya bakal seru tuh”, Sandra menimpali.
“Ya sudahlah, kita main sambil menunnggu hujan reda”, kataku dengan senyum mengembang.
“Ren, kamu ikut juga kan?” tanya Aldo pada Reno dengan tatapan memaksa.
“Serah kalian aja”, jawab Reno datar.
Kami pun memulai permainan. Sebelum itu, kami harus duduk melingkar. Di hadapan kami ada satu botol yang menentukan takdir kami ke depannya. Seperti biasa, dalam permainan ini satu orang bertugas untuk memutar botol. Tugas mulia itu kami serahkan ke Aldo, dengan alasan dia adalah seorang yang ahli dalam keterampilan tangan. Entah apa hubungannya, kami merasa bahwa orang-orang yang terampil lah yang layak menjalankan tugas tersebut.
“Baiklah teman-teman, mari kita mulai putaran pertama. Are you guys ready for this?”, ucap Aldo bersemangat.
“Ayolah, buruan putar botolnya!”, desak Kevin tak sabaran
Jadilah putaran pertama dilakukan oleh Aldo, dan tepat mengarah ke tembok kosong yang berada di samping Reno.
“Yah, kamu payah nih mutarnya”, ledek Sandra sambil menahan tawa.
“Hahaa, sorry guys. Kita coba sekali lagi ya”, kata Aldo sambil memamerkan senyum sumringahnya.
Putaran dilanjutkan kembali, dan kali ini tepat mengarah kepada Kevin.
Kami lalu sontak berkata “Truth Or Dare” dengan tawa cekikikan.
“Baiklah, baiklah. Aku pilih Dare”, jawab Kevin dengan memamerkan senyum jahilnya.
Kami semua tampak berpikir keras menentukan hal gila macam apa yang tepat dilakukan oleh seorang Kevin yang bisa dibilang cukup pemberani seangkatan.
“Heemm, gimana kalo lari keliling lapangan sambil teriak hujan.. hujan.. berhentilah!!?”, tanyaku pada Kevin sambil menahan tawa.
Keempat temanku tampak setuju dengan usul yang aku berikan. Akhirnya Kevin harus melaksanakan perintah tadi. Dia lalu berlari turun menuju lapangan diikuti kami yang berlari ke arah koridor untuk melihat aksinya.
Sudah ku duga, Kevin sangat sukses menjalankan misi pertamanya. Sukses membuat seisi sekolah meneriakinya dengan berbagai makian. Selanjutnya, kami kembali duduk di posisi semula. Kali ini putaran ketiga kembali diluncurkan oleh Aldo, dan botol itu tepat mengarah ke Sandra.
Sontak kami menanyakan “Truth Or Dare?”
“Aku pilih Truth aja deh”, jawab Sandra malu-malu.
Kali ini Reno yang angkat bicara.
“Seberapa akrab kamu sama sahabatmu itu? Hal terburuk apa yang pernah kamu lakukan ke dia?” tanya Reno dengan pandangan mengarah ke padaku.
Kali ini aku memalingkan wajahku ke arah Sandra menunggu jawaban yang terlontar dari bibir mungilnnya. Sandra tampak menerawang, entah apa yang dia pikirkan.
***
“Gimana, San? Sudah kamu kasih gak cheese cake buatanku? “, tanyaku tak sabaran.
“Ah? Iy.. iya kok Ra, kamu tenang aja”
“Sumpah ya, kamu memang sahabatku paling mengerti deh. So lucky to have you, San”, kataku sambil memeluk erat sahabatku itu.
“Eh, Ra.. Aku mau ke ruang guru dulu yah. Tadi aku dicariin sama Bu Ratna, katanya ada tugas tambahan untuk ku”.
“Oh, oke deh. Kamu gak mau aku temenin?”.
“Gak usah, Ra. Kamu duluan aja. Kamu kan harus ke Pak Dony buat ambil daftar nilai ulangan harian kelas kita. Kalo telat nanti kamu kena omel lagi”.
“Aduh, aku hampir lupa. Makasih yah Sandra sayang”.
“Iya iya, sana gih!”
Aku langsung berlari ke ruangan Pak Dony menyusuri koridor, melewati kelas demi kelas. Tiba-tiba di tengah lapangan aku ketemu sama Reno. Jantungku seketika tak terkontrol, detaknya serasa begitu cepat, membuat pipiku memancarkan semburat merah muda. Aku coba menepis semua itu sambil terus berlari menyusuri lapangan sekolah.
***
“San, bentar malam aku jemput kamu di rumah yah. Ada sesuatu yang aku mau bilang ke kamu”
“Ngg, iya.. kamu kabari aja, nanti aku kasih tau kepastiannya”.
“Oke deh, sampai jumpa sayang” kata Reno sambil mengecup hangat kening Sandra.
Sandra hanya bisa terdiam, tak bisa memikirkan bagaimana perasaan sahabatnya jika dia melihat adegan tadi. Adegan yang akan membuat persahabatan mereka berada di ujung tanduk.
***
Sakit. Satu kata yang aku rasakan saat ini. Mendengar semua itu terucap dari sahabatku sendiri, betapa penghianatnya dia.
“Tega kamu, San. Selama ini aku selalu percaya sama kamu. Gak ada orang lain yang bisa aku andalkan untuk berbagi cerita selain kamu. Selama ini aku kira kamu tulus membantu aku supaya bisa dekat dengan Reno. Ternyata aku salah. Kamu tak lebih dari pengecut yang menyembunyikan perasaanmu sendiri di depan sahabatmu. Atau jangan-jangan selama ini kamu tak pernah menganggapku sahabat, seperti aku yang menganggap dirimu begitu berharga?”
“Ra, kamu dengerin aku dulu. Semua tak sebejat yang ada dipikiran kamu. Aku hanya.. aku hanyaa..”
“Hanya apa? Aku tahu kok, kamu hanya ingin menusukku seperti ini. Iyakan?”, bentak ku tanpa ampun pada Sandra.
Sandra tak melawan sedikitpun,  dia bahkan tak sanggup meneruskan perkataannya. Aku muak bicara dengannya lagi. Kali ini tatapanku beralih ke Reno, berharap dia bisa mengatakan sesuatu tentang hal gila ini.
“Dan kamu tahu kan suatu saat semua ini akan terbongkar? Kamu tahu kan kalo aku tuh suka sama kamu sejak pertama di ruang tes itu. Saat kamu meminjamkan tisu kepadaku. Kamu tau gak setelah pertemuan itu aku hanya bisa berharap kita dapat lulus bersama. Kamu adalah penyelamatku. Kalo gak ada kamu waktu itu, aku gak akan bisa seperti ini, lulus sebagai siswa terbaik SMAN 3 Makassar. Waktu itu tanganku dipenuhi keringat, aku bahkan harus berhenti mengerjakan soal kalo ingin lembar jawabanku gak sobek karena basah”.
Semuanya tampak mengabur, aku hanya bisa melihat mereka berempat diam seribu bahasa. Ku pandangi Sandra dan Reno satu demi satu, meminta penjelasan atas ketidakadilan telah mempermainkan perasaanku.
“Ra, dengerin aku baik-baik yah. Sejak saat itu, aku telah bersama Sandra. Tisu itu juga pemberian Sandra sebelum aku masuk ruang ujian. Jadi pahlawan kamu sebenarnya itu Sandra, bukan aku”
Aku tak bisa berkata lagi, air mataku mulai berjatuhan satu demi satu. Ku pandangi wajah teman-temanku, berharap salah satu dari mereka ada yang tertawa melihat semua ini. Berharap ini hanya lelucon sebagai hadiah kelulusan. Tapi nihil, aku hanya bisa meratapi nasibku yang begitu hancur sehancur hancurnya. Tentang arti persahabatan yang menusukku dari belakang, tentang arti cinta yang omong kosong, aku tak sanggup lagi.
“Aku gak yakin harus ngomong ini sekarang atau gak”, aku Reno.
“Apa itu, Ren? Segitu banyak kah yang kalian sembunyikan padaku sejak 3 tahun ini?”, aku hanya bisa berkata dengan terisak.
“Ren, aku mohon jangan menyiksaku seperti ini.”, aku Sandra.
“Apa maksud kamu, San? Kalaupun ada pihak yang tersiksa, aku satu-satunya, San. Aku, bukan kamu!”, bentakku tak dapan menahan tangis.
“Sudah cukup, aku gak tau deh masalah kalian bertiga itu apa. Aku gak tau, yang jelas aku gak bisa terima kalo kalian jadi berantem seperti ini”, kata Aldo mencoba menengahi.
“Ra, dengerin aku baik-baik. Kamu jangan pernah membentak Sandra kayak gitu lagi”, kata Reno tajam tanpa sedikitpun memperdulikan perkataan Aldo.
“Kenapa, Ren? Karena dia pacar kamu? Oh, aku lupa kalian sekongkol akan hal ini. Jujur, aku gak tahu modus kalian apa. Atau jangan-jangan kalian iri kan karena aku selalu jadi murid kesayangan guru? Atau kalian iri karena aku selalu berada satu langkah di depan kalian, hah?”
“Tarik kembali ucapanmu, Ra!! Karena Sandra itu kakak kamu”, bentak Reno padaku.
Aku hanya bisa terhenyak mendengar perkataan Reno. Tak cukupkah mereka mempermainkan perasaanku? Apa maksudnya Sandra itu kakakku?
“Ra, kita saudara. Aku kakak kamu, kakak tiri kamu”, Sandra mulai menangis. Dia lalu memelukku.
Aku masih bingung dengan semua ini. Aku tak membalas pelukannya, namun aku juga tak menolak. Yang aku tahu aku hanya membiarkan diriku jatuh di dalam pelukan Sandra.
“Aku tahu kamu pasti tak mengerti, Ra. Kita satu ayah. Ayahmu itu ayahku. Dia meninggalkan aku dan Ibuku tepat setelah ulang tahunku yang ke 4 tahun. Awalnya kami tak rela ditinggal begitu saja tanpa alasan yang jelas. Namun perlahan aku tahu kalau Ayah kembali bersama pacarnya. Kau tahu? Ayahmu dan Ibuku itu dijodohkan. Mereka tak pernah saling mencinta. Sialnya, mereka harus mempunyai satu anak yang mereka sama sekali tak pernah mengharapkan kehadirannya. Benar, itu aku”, ucap sandra dengan bibir gemetar menahan tangis.
Aku masih shock, tak dapat berkata-kata lagi. Hanya kata maaf yang sempat terucap dari bibirku. Entah aku harus senang atau sedih mendengar kenyataan ini. Di satu sisi aku senang karena ternyata aku memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Sandra, tapi di sisi lain aku harus rela melihat seseorang yang aku cintai selama ini bersama saudara tiriku sendiri, bukan aku.
Hujan pun mulai berhenti, menyisakan tetesan-tetesan air yang jatuh perlahan-lahan menyentuh tanah. Aku dapat mencium semerbak bau tanah yang basah. Langit tak lagi kelabu, bahkan terlihat jelas semburat cahaya matahari yang seketika terasa begitu hangat. Aku dapat merasakan aura kesejukan menghantui diriku. Ku pandang langit, dan menyunggingkan senyumku, berharap Tuhan mengerti bahwa aku selalu bersyukur atas skenario yang Dia berikan padaku.
Dari kejauhan ku lihat Aldo tersenyum kepadaku sambil melambaikan tangannya, mengisyaratkan bahwa upacara besar akan segera dimulai. Aku balas melambai disertai senyumku yang terhangat untuknya. Entah apa yang kurasakan saat itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar