Hari
ini merupakan salah satu hari besar sekolah kami. Setelah 3 tahun lamanya kami
menempuh pendidikan di SMA Negeri 3 Makassar, akhirnya kami bisa bernapas lega
mengetahui bahwa angkatan kami lulus 100%. Tidak ada kata yang dapat
menggambarkan perasaan kami dengan pasti, kami hanya bisa memanjatkan syukur
kepada Tuhan yang telah menganugerahkan nikmatnya kepada kami yang begitu luar
biasa.
Seperti
biasa, setiap tahunnya sekolah kami mengadakan upacara besar untuk melepas
kepergian kami yang mendapat predikat sebagai alumni. Upacara ini bukanlah
upacara biasa yang rutin dilakukan pada hari Senin, melainkan upacara di mana
siswa-siswi bebas mengekspresikan bakat yang mereka miliki di depan seluruh
warga SMAN 3 Makassar untuk yang terakhir kalinya.
***
Siapa
yang menduga hari ini hujan. Aku hanya bisa termenung melihat persiapan upacara
sudah tertata rapi di lapangan. Di sana tertera papan identitas yang
menunjukkan barisan tiap kelas, dilengkapi dengan balon dan banner yang siap diterbangkan ke langit
sebagai rasa syukur kami atas berkah kelulusan yang Dia berikan. Tak
ketinggalan pula sebuah panggung yang cukup besar dengan berbagai kelengkapan soundsistem beserta alat musik yang siap
untuk meramaikan acara yang sudah direncanakan sedemikian rupa.
Aku
dapat melihat ekspresi kecewa dari setiap siswa-siswi yang lalu lalang di
depanku. Mereka pasti sama kecewanya denganku. Kami telah mempersiapkan segala
hal demi kelancaran acara ini, namun apa boleh buat. Aku yakin, hujan kali ini
akan membawa nikmat. Satu hal yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu.
Menunggu hingga matahari kembali muncul dibalik awan dan memancarkan cahaya
terangnya.
Aku
sangat benci melihat semua teman-teman seperjuanganku seakan putus harapan.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan sekolah, berharap bisa
mendapatkan buku-buku bagus untuk dibaca.
“Hai
Ra, kamu mau ke mana?”, sapa suara yang tak asing lagi bagiku dari belakang.
“Hai
San, aku mau ke perpus nih. Mau ngadem dulu, daripada di lapangan hanya bisa
liat aura-aura suntuk”, jawabku dengan wajah kesal.
“Oh,
kalo gitu aku ikut kamu ya. Males juga liat hujannya. Kenapa mesti turun hari
ini sih? Kenapa gak kemaren coba?”.
“Hustt,
pasti ada hikmahnya kok. Kita hanya perlu sabar”, kataku sambil mencubit pipi
cabi Sandra.
Aku
dan Sandra adalah teman sebangku sejak kelas 1 SMA. Tak hanya itu, kami bahkan
dijuluki si kembar yang tak terpisahkan. Ini karena kami selalu menghabiskan
waktu berdua. Untung aja kami berdua cewek, kalo yang satu cowok pasti kami
udah jodoh saking lengketnya.
Hanya
butuh waktu kurang dari 5 menit untuk sampai di perpustakaan. Perpustakaan kami
terletak di lantai dua, tepat di depan mushallah, di samping kanan laboratorium
kimia. Aku terkejut melihat Aldo, Reno, dan Kevin duduk di depan pintu perpustakaan
dengan wajah memelas.
“Kamu
kenapa, Do?”, tanyaku.
“Perpus
tutup nih, gak seru”, jawabnya dengan pandangan lurus ke depan koridor.
“Yah,
padahal kami baru mau baca di perpus”, keluh Sandra yang sedari tadi hanya
diam.
“Ya
sudahlah, mau bagaimana lagi. Ini semua gara-gara hujan sialan ini. Harusnya
hari ini kita tuh seneng-seneng satu angkatan merayakan kesuksesan kita”,
gerutu Kevin.
“Sudahlah,
udah terlanjur. Kita hanya bisa nunggu hujannya berhenti”, jawabku dengan
tatapan kosong.
“Hey,
daripada kalian capek berdiri di situ, mending sini aja duduk. Daripada kalian
ke bawah lagi, kan capek”, kata Aldo sambil tersenyum.
Tanpa
basi basi aku segera menarik tangan Sandra dan duduk tepat di samping Aldo.
Entah
kesalahan apa yang angkatan kami telah perbuat. Hujan bukannya redah, malah
makin menjadi. Kini ditambah kilatan yang memotret dengan riangnya. Sesekali
tampak seberkas cahaya merah yang mengetuk-ngetuk langit.
“Aduh,
gimana nih, Do? Kayaknya angkatan kita kali ini harus rela menerima kenyataan.
Masa sih tahun ini gak akan ada upacara besar?”, tanya Sandra ke Aldo yang
sedari tadi asyik mengutak-atik Iphonenya.
“Entahlah,
San. Perkataanmu ada benarnya juga”, jawab Aldo mulai patah semangat.
Dalam
hati aku juga mulai khawatir akan perkataan Sandra, kita harus bisa
menerima kemungkinan terburuknya. Kali
ini mataku tertuju pada Reno yang sedari tadi hanya duduk termangu sambil
sesekali meneguk minuman di botol yang dia pegang. Dia tampak begitu dingin,
entah masalah apa yang sedang dihadapinya.
Aku
tak pernah merasa bosan mengamati wajahnya. Meskipun terkesan dingin, aku tetap
menyukai lekuk wajahnya yang begitu menawan. Matanya yang tajam memancarkan
aura kemisteriusan yang begitu menggoda. Ku runut wajahnya satu demi satu, sangat
mempesona.
Tanpa
sadar Reno memalingkan pandangannya padaku dengan tatapan heran. Aku langsung
salah tingkah dan segera memalingkan pandanganku darinya. Sedetik kemudian aku
baru tersadar kalo dia tak lagi berkonsentrasi pada minumannya, malahan dia
mengemati aku yang sedang melongo.
“Pantas
saja, minumannya udah habis”, gumamku tanpa sadar.
“Eh?
Kamu bilang apa, Ra?” tanya Kevin heran.
“Engg..
gak kok. Hujannya udah mulai reda, hehe”, sangkal ku sekenanya.
“Kamu
menghayal yah, Ra? Hujannya dari tadi begitu-begitu aja, malah kamu bilang
reda.”, timpal Sandra sambil menyenggol pundakku.
“Sudahlah,
sebelum kita pada bengong semua, gimana kalo..”
“Kalo
apa, Do?”, tanya Sandra penasaran.
Tanpa
ku duga Aldo mengambil botol minuman Reno yang sudah kosong tadi, kemudian
mengangkatnya tinggi-tinggi sembari meneruskan kalimatnya.
“Gimana
kalo kita main Truth Or Dare aja?”, tanyanya dengan penuh semangat.
“Boleh
juga tuh, dari pada gak ada kerjaan”, jawab Kevin.
“Iya,
kayaknya bakal seru tuh”, Sandra menimpali.
“Ya
sudahlah, kita main sambil menunnggu hujan reda”, kataku dengan senyum
mengembang.
“Ren,
kamu ikut juga kan?” tanya Aldo pada Reno dengan tatapan memaksa.
“Serah
kalian aja”, jawab Reno datar.
Kami
pun memulai permainan. Sebelum itu, kami harus duduk melingkar. Di hadapan kami
ada satu botol yang menentukan takdir kami ke depannya. Seperti biasa, dalam
permainan ini satu orang bertugas untuk memutar botol. Tugas mulia itu kami
serahkan ke Aldo, dengan alasan dia adalah seorang yang ahli dalam keterampilan
tangan. Entah apa hubungannya, kami merasa bahwa orang-orang yang terampil lah
yang layak menjalankan tugas tersebut.
“Baiklah
teman-teman, mari kita mulai putaran pertama. Are you guys ready for this?”,
ucap Aldo bersemangat.
“Ayolah,
buruan putar botolnya!”, desak Kevin tak sabaran
Jadilah
putaran pertama dilakukan oleh Aldo, dan tepat mengarah ke tembok kosong yang
berada di samping Reno.
“Yah,
kamu payah nih mutarnya”, ledek Sandra sambil menahan tawa.
“Hahaa,
sorry guys. Kita coba sekali lagi ya”, kata Aldo sambil memamerkan senyum
sumringahnya.
Putaran
dilanjutkan kembali, dan kali ini tepat mengarah kepada Kevin.
Kami
lalu sontak berkata “Truth Or Dare” dengan tawa cekikikan.
“Baiklah,
baiklah. Aku pilih Dare”, jawab Kevin dengan memamerkan senyum jahilnya.
Kami
semua tampak berpikir keras menentukan hal gila macam apa yang tepat dilakukan
oleh seorang Kevin yang bisa dibilang cukup pemberani seangkatan.
“Heemm,
gimana kalo lari keliling lapangan sambil teriak hujan.. hujan.. berhentilah!!?”,
tanyaku pada Kevin sambil menahan tawa.
Keempat
temanku tampak setuju dengan usul yang aku berikan. Akhirnya Kevin harus
melaksanakan perintah tadi. Dia lalu berlari turun menuju lapangan diikuti kami
yang berlari ke arah koridor untuk melihat aksinya.
Sudah
ku duga, Kevin sangat sukses menjalankan misi pertamanya. Sukses membuat seisi
sekolah meneriakinya dengan berbagai makian. Selanjutnya, kami kembali duduk di
posisi semula. Kali ini putaran ketiga kembali diluncurkan oleh Aldo, dan botol
itu tepat mengarah ke Sandra.
Sontak
kami menanyakan “Truth Or Dare?”
“Aku
pilih Truth aja deh”, jawab Sandra malu-malu.
Kali
ini Reno yang angkat bicara.
“Seberapa
akrab kamu sama sahabatmu itu? Hal terburuk apa yang pernah kamu lakukan ke
dia?” tanya Reno dengan pandangan mengarah ke padaku.
Kali
ini aku memalingkan wajahku ke arah Sandra menunggu jawaban yang terlontar dari
bibir mungilnnya. Sandra tampak menerawang, entah apa yang dia pikirkan.
***
“Gimana,
San? Sudah kamu kasih gak cheese cake buatanku? “, tanyaku tak sabaran.
“Ah?
Iy.. iya kok Ra, kamu tenang aja”
“Sumpah
ya, kamu memang sahabatku paling mengerti deh. So lucky to have you, San”,
kataku sambil memeluk erat sahabatku itu.
“Eh,
Ra.. Aku mau ke ruang guru dulu yah. Tadi aku dicariin sama Bu Ratna, katanya
ada tugas tambahan untuk ku”.
“Oh,
oke deh. Kamu gak mau aku temenin?”.
“Gak
usah, Ra. Kamu duluan aja. Kamu kan harus ke Pak Dony buat ambil daftar nilai
ulangan harian kelas kita. Kalo telat nanti kamu kena omel lagi”.
“Aduh,
aku hampir lupa. Makasih yah Sandra sayang”.
“Iya
iya, sana gih!”
Aku
langsung berlari ke ruangan Pak Dony menyusuri koridor, melewati kelas demi
kelas. Tiba-tiba di tengah lapangan aku ketemu sama Reno. Jantungku seketika
tak terkontrol, detaknya serasa begitu cepat, membuat pipiku memancarkan
semburat merah muda. Aku coba menepis semua itu sambil terus berlari menyusuri
lapangan sekolah.
***
“San,
bentar malam aku jemput kamu di rumah yah. Ada sesuatu yang aku mau bilang ke
kamu”
“Ngg,
iya.. kamu kabari aja, nanti aku kasih tau kepastiannya”.
“Oke
deh, sampai jumpa sayang” kata Reno sambil mengecup hangat kening Sandra.
Sandra
hanya bisa terdiam, tak bisa memikirkan bagaimana perasaan sahabatnya jika dia
melihat adegan tadi. Adegan yang akan membuat persahabatan mereka berada di
ujung tanduk.
***
Sakit.
Satu kata yang aku rasakan saat ini. Mendengar semua itu terucap dari sahabatku
sendiri, betapa penghianatnya dia.
“Tega
kamu, San. Selama ini aku selalu percaya sama kamu. Gak ada orang lain yang
bisa aku andalkan untuk berbagi cerita selain kamu. Selama ini aku kira kamu
tulus membantu aku supaya bisa dekat dengan Reno. Ternyata aku salah. Kamu tak
lebih dari pengecut yang menyembunyikan perasaanmu sendiri di depan sahabatmu.
Atau jangan-jangan selama ini kamu tak pernah menganggapku sahabat, seperti aku
yang menganggap dirimu begitu berharga?”
“Ra,
kamu dengerin aku dulu. Semua tak sebejat yang ada dipikiran kamu. Aku hanya..
aku hanyaa..”
“Hanya
apa? Aku tahu kok, kamu hanya ingin menusukku seperti ini. Iyakan?”, bentak ku
tanpa ampun pada Sandra.
Sandra
tak melawan sedikitpun, dia bahkan tak
sanggup meneruskan perkataannya. Aku muak bicara dengannya lagi. Kali ini
tatapanku beralih ke Reno, berharap dia bisa mengatakan sesuatu tentang hal
gila ini.
“Dan
kamu tahu kan suatu saat semua ini akan terbongkar? Kamu tahu kan kalo aku tuh
suka sama kamu sejak pertama di ruang tes itu. Saat kamu meminjamkan tisu
kepadaku. Kamu tau gak setelah pertemuan itu aku hanya bisa berharap kita dapat
lulus bersama. Kamu adalah penyelamatku. Kalo gak ada kamu waktu itu, aku gak
akan bisa seperti ini, lulus sebagai siswa terbaik SMAN 3 Makassar. Waktu itu
tanganku dipenuhi keringat, aku bahkan harus berhenti mengerjakan soal kalo
ingin lembar jawabanku gak sobek karena basah”.
Semuanya
tampak mengabur, aku hanya bisa melihat mereka berempat diam seribu bahasa. Ku
pandangi Sandra dan Reno satu demi satu, meminta penjelasan atas ketidakadilan
telah mempermainkan perasaanku.
“Ra,
dengerin aku baik-baik yah. Sejak saat itu, aku telah bersama Sandra. Tisu itu
juga pemberian Sandra sebelum aku masuk ruang ujian. Jadi pahlawan kamu
sebenarnya itu Sandra, bukan aku”
Aku
tak bisa berkata lagi, air mataku mulai berjatuhan satu demi satu. Ku pandangi
wajah teman-temanku, berharap salah satu dari mereka ada yang tertawa melihat
semua ini. Berharap ini hanya lelucon sebagai hadiah kelulusan. Tapi nihil, aku
hanya bisa meratapi nasibku yang begitu hancur sehancur hancurnya. Tentang arti
persahabatan yang menusukku dari belakang, tentang arti cinta yang omong
kosong, aku tak sanggup lagi.
“Aku
gak yakin harus ngomong ini sekarang atau gak”, aku Reno.
“Apa
itu, Ren? Segitu banyak kah yang kalian sembunyikan padaku sejak 3 tahun ini?”,
aku hanya bisa berkata dengan terisak.
“Ren,
aku mohon jangan menyiksaku seperti ini.”, aku Sandra.
“Apa
maksud kamu, San? Kalaupun ada pihak yang tersiksa, aku satu-satunya, San. Aku,
bukan kamu!”, bentakku tak dapan menahan tangis.
“Sudah
cukup, aku gak tau deh masalah kalian bertiga itu apa. Aku gak tau, yang jelas
aku gak bisa terima kalo kalian jadi berantem seperti ini”, kata Aldo mencoba
menengahi.
“Ra,
dengerin aku baik-baik. Kamu jangan pernah membentak Sandra kayak gitu lagi”,
kata Reno tajam tanpa sedikitpun memperdulikan perkataan Aldo.
“Kenapa,
Ren? Karena dia pacar kamu? Oh, aku lupa kalian sekongkol akan hal ini. Jujur,
aku gak tahu modus kalian apa. Atau jangan-jangan kalian iri kan karena aku
selalu jadi murid kesayangan guru? Atau kalian iri karena aku selalu berada
satu langkah di depan kalian, hah?”
“Tarik
kembali ucapanmu, Ra!! Karena Sandra itu kakak kamu”, bentak Reno padaku.
Aku
hanya bisa terhenyak mendengar perkataan Reno. Tak cukupkah mereka
mempermainkan perasaanku? Apa maksudnya Sandra itu kakakku?
“Ra,
kita saudara. Aku kakak kamu, kakak tiri kamu”, Sandra mulai menangis. Dia lalu
memelukku.
Aku
masih bingung dengan semua ini. Aku tak membalas pelukannya, namun aku juga tak
menolak. Yang aku tahu aku hanya membiarkan diriku jatuh di dalam pelukan
Sandra.
“Aku
tahu kamu pasti tak mengerti, Ra. Kita satu ayah. Ayahmu itu ayahku. Dia
meninggalkan aku dan Ibuku tepat setelah ulang tahunku yang ke 4 tahun. Awalnya
kami tak rela ditinggal begitu saja tanpa alasan yang jelas. Namun perlahan aku
tahu kalau Ayah kembali bersama pacarnya. Kau tahu? Ayahmu dan Ibuku itu
dijodohkan. Mereka tak pernah saling mencinta. Sialnya, mereka harus mempunyai
satu anak yang mereka sama sekali tak pernah mengharapkan kehadirannya. Benar,
itu aku”, ucap sandra dengan bibir gemetar menahan tangis.
Aku
masih shock, tak dapat berkata-kata lagi. Hanya kata maaf yang sempat terucap
dari bibirku. Entah aku harus senang atau sedih mendengar kenyataan ini. Di
satu sisi aku senang karena ternyata aku memiliki hubungan yang lebih dekat
dengan Sandra, tapi di sisi lain aku harus rela melihat seseorang yang aku
cintai selama ini bersama saudara tiriku sendiri, bukan aku.
Hujan
pun mulai berhenti, menyisakan tetesan-tetesan air yang jatuh perlahan-lahan
menyentuh tanah. Aku dapat mencium semerbak bau tanah yang basah. Langit tak
lagi kelabu, bahkan terlihat jelas semburat cahaya matahari yang seketika
terasa begitu hangat. Aku dapat merasakan aura kesejukan menghantui diriku. Ku
pandang langit, dan menyunggingkan senyumku, berharap Tuhan mengerti bahwa aku
selalu bersyukur atas skenario yang Dia berikan padaku.
Dari
kejauhan ku lihat Aldo tersenyum kepadaku sambil melambaikan tangannya,
mengisyaratkan bahwa upacara besar akan segera dimulai. Aku balas melambai
disertai senyumku yang terhangat untuknya. Entah apa yang kurasakan saat itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar