17.00
Kehangatan mentari mulai surut, namun tak
sedikitpun ku lihat tanda kehadiranmu. Hatiku mulai meragu. Ku ambil ponselku,
tak ada satu pun sms darimu. Haruskah aku
beranjak dari sini? Tanpamu..
17.15
Aku tersenyum manja pada layar ponsel. Aku
mendapati namamu tertera di sana. Ya, itu sms darimu. Maka aku tetap menunggu.
17.30
Aku mulai khawatir kau tak datang.
Pemandangan di luar sana membuat hatiku kecut. Semilir angin berhembus menerpa
kulit wajahku yang pucat. Sensasinya mampu membuat hatiku bergidik, tak sanggup
membayangkan kekecewaan. Ku pandangi layar ponselku. Tak sedikitpun ku alihkan
pandanganku darinya. Semenit, dua menit, aku tetap enggan beranjak dari sini.
Tak ada alasan yang cukup pasti.
17.55
Langit di luar sana mulai mengabur. Kendaraan
berlalu-lalang tak beraturan, saling mendahului satu sama lain, jelas mereka sangat
tak sabaran. Was-was aku melirik arlojiku, menghitung waktu yang tersisa
sebelum adzan magrib mulai berkumandang dengan merdunya. Aku terlonjak kaget
oleh bunyi khas ponselku. Di sana ada namamu, keraguanku mulai runtuh
tergantikan oleh kepingan-kepingan senyum yang mengembang di wajahku. Cepat-cepat
aku berdiri dari dudukku, melongokkan kepala ke luar. Betapa leganya aku melihatmu
duduk manis di atas matic putih. Kau
memberiku helm dengan warna senada disertai senyum menawanmu. Aku cukup
mengerti, itulah mengapa aku menunggu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar