Senin, 09 September 2013

Menunggu



17.00
Kehangatan mentari mulai surut, namun tak sedikitpun ku lihat tanda kehadiranmu. Hatiku mulai meragu. Ku ambil ponselku, tak ada satu pun sms darimu. Haruskah aku  beranjak dari sini? Tanpamu..
17.15
Aku tersenyum manja pada layar ponsel. Aku mendapati namamu tertera di sana. Ya, itu sms darimu. Maka aku tetap menunggu.
17.30
Aku mulai khawatir kau tak datang. Pemandangan di luar sana membuat hatiku kecut. Semilir angin berhembus menerpa kulit wajahku yang pucat. Sensasinya mampu membuat hatiku bergidik, tak sanggup membayangkan kekecewaan. Ku pandangi layar ponselku. Tak sedikitpun ku alihkan pandanganku darinya. Semenit, dua menit, aku tetap enggan beranjak dari sini. Tak ada alasan yang cukup pasti.
17.55
Langit di luar sana mulai mengabur. Kendaraan berlalu-lalang tak beraturan, saling mendahului satu sama lain, jelas mereka sangat tak sabaran. Was-was aku melirik arlojiku, menghitung waktu yang tersisa sebelum adzan magrib mulai berkumandang dengan merdunya. Aku terlonjak kaget oleh bunyi khas ponselku. Di sana ada namamu, keraguanku mulai runtuh tergantikan oleh kepingan-kepingan senyum yang mengembang di wajahku. Cepat-cepat aku berdiri dari dudukku, melongokkan kepala ke luar. Betapa leganya aku melihatmu duduk manis di atas matic putih. Kau memberiku helm dengan warna senada disertai senyum menawanmu. Aku cukup mengerti, itulah mengapa aku menunggu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar